Mas kawin atau mahar merupakan kewajiban yang diberikan suami kepada istri. Dalam pernikahan Islam, mas kawin hukumnya wajib, namun bukan syarat sah atau rukun nikah yang membatalkan pernikahan.
Jadi, akad nikah tetap sah meski tanpa disebutkan atau dibayarkan mahar terlebih dahulu ketika ijab kabul. Namun, setelah itu, suami tetap wajib menyerahkan mahar kepada istri sebagai hak miliknya.
Nah, supaya kamu tidak salah langkah atau terjebak gengsi sosial, yuk, bahas cara menentukannya dengan sudut pandang yang lebih tenang dan realistis.
Cara Menentukan Nominal Mas Kawin yang Pantas
Mahar merupakan simbol keseriusan, penghormatan, dan tanggung jawab calon suami kepada calon istri.
Dalam pernikahan Islam tidak pernah menetapkan angka fantastis sebagai standar nominal mahar. Justru yang ditekankan adalah kemudahan dan keikhlasan.
Berikut beberapa hal yang bisa dipertimbangkan saat menetapkan nominal mahar supaya keputusan yang diambil adil dan tidak memberatkan:
1. Sesuaikan dengan Kemampuan Finansial
Mas kawin seharusnya tidak membuat kamu berutang besar atau mengorbankan kebutuhan penting setelah menikah. Pernikahan adalah awal kehidupan baru, bukan ajang pembuktian status.
Dalam ajaran Islam, mahar dianjurkan untuk dipermudah. Dilansir dari NU Online, dalam hadis riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa sebaik-baik mahar adalah yang paling ringan. Artinya, nilai bukan ukuran utama. Keikhlasan dan kesanggupan jauh lebih penting.
2. Diskusikan Secara Terbuka dengan Calon Pasangan
Jangan menebak-nebak ekspektasi mas kawin yang diinginkan pasangan atau keluarganya. Komunikasikan dengan baik karena kesepakatan adalah kunci. Tanyakan, apa yang menurut calon istri bermakna.
Jika mahar disebutkan secara jelas saat akad (mahar musamma), maka itulah yang wajib dipenuhi. Jika tidak disebutkan, maka berlaku mahar mitsil, yaitu nilai yang lazim di lingkungan keluarga mempelai wanita.
3. Pertimbangkan Nilai Manfaat Jangka Panjang
Mas kawin tidak harus habis pakai. Banyak pasangan memilih emas atau logam mulia karena nilainya relatif stabil dan bisa menjadi tabungan masa depan. Jadi bukan hanya simbolis, tapi juga punya nilai ekonomi nyata.
Di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif, aset seperti emas sering dianggap lebih aman dibanding sekadar uang tunai yang bisa tergerus inflasi.
4. Perhatikan Tradisi, Tapi Jangan Tertekan
Di beberapa daerah, ada standar adat tertentu terkait nominal mas kawin. Tidak ada salahnya menghormati tradisi tersebut. Namun ingat, tradisi seharusnya mempermudah, bukan mempersulit, ya.
Jika angka mas kawin yang diajukan terasa berat, diskusikan dengan baik bersama keluarga. Ingat, pernikahan adalah tentang membangun rumah tangga, bukan soal gengsi sosial.
Berapa Mas Kawin yang Pantas?
Sebenarnya, tidak ada patokan atau nominal minimal dan maksimal untuk mas kawin pernikahan. Terpenting, bentuk dan besarannya ditentukan berdasarkan kemampuan, keikhlasan, fungsionalitas, dan kesepakatan bersama.
Terkait nominal mas kawin yang pas, kamu bisa merujuk pada panduan para ulama dan tradisi yang sehat terkait pemberian mas kawin, yaitu:
1. Tidak Terlalu Rendah
Meskipun bentuknya berupa uang Rp100 ribu, secara hukum tetap sah dijadikan mahar (selama wanita rida). Namun jika kamu mampu memberikan lebih, maka berikanlah yang lebih layak sebagai bentuk penghormatan.
2. Tidak Berlebihan (Ekstrim)
Mahar yang terlalu tinggi hingga mencapai ratusan juta tanpa alasan yang jelas bisa menimbulkan kesan bahwa pernikahan adalah sebuah transaksi bisnis. Hal ini justru bisa menghambat keberkahan.
3. Mengikuti Standar Sunnah
Sebagai gambaran, para ulama menyarankan mahar berkisar antara 10 dirham hingga 500 dirham. Jika dikonversi ke nilai perak saat ini, rentangnya bisa dimulai dari ratusan ribu hingga belasan juta rupiah. Angka ini dianggap sangat ideal dan moderat bagi kebanyakan orang.
4. Nilai Manfaat
Mahar yang pantas adalah yang punya nilai manfaat. Uang tunai bisa langsung digunakan untuk kebutuhan awal rumah tangga, sedangkan emas bisa menjadi aset cadangan di masa depan.
Bentuk Mas Kawin yang Diakui
Zaman sekarang, bentuk mahar sudah sangat kreatif. Kamu tidak harus memberikan uang tunai dalam bingkai yang dihias. Berikut adalah beberapa pilihan mahar populer:
1. Logam Mulia atau Perhiasan Emas
Emas atau logam mulia adalah pilihan favorit sepanjang masa. Emas punya nilai intrinsik yang stabil dan cenderung naik.
Selain itu, emas sangat mudah disimpan dan memiliki nilai sentimental yang tinggi. Memilih emas sebagai mahar sama saja dengan memberikan “tabungan rahasia” bagi istri kamu.
2. Uang Tunai
Bentuk yang paling praktis. Keunggulannya adalah fleksibilitas. Istri kamu bisa menggunakannya untuk apa pun yang ia butuhkan setelah sah menjadi pendamping hidupmu.
3. Aset Properti atau Kendaraan
Bagi kamu yang punya rezeki berlebih, memberikan mahar berupa rumah atau kendaraan tentu sangat luar biasa. Ini adalah jaminan nyata bahwa kamu sudah siap secara materi untuk menanggung kehidupan keluarga.
4. Mahar Spiritual dan Jasa
Mengajarkan Al-Qur’an, hafalan surah tertentu, atau bahkan perjalanan ibadah haji/umrah juga merupakan bentuk mahar yang sangat indah dan diakui dalam syariat.
Emas bukan hanya simbol saat akad, tapi juga bisa menjadi aset keluarga. Jika ada kebutuhan mendesak atau ingin mengelola ulang aset, emas tersebut tetap bisa dijual kembali.Nah, kamu perlu memilih tempat jual beli emas yang transparan dan terpercaya. Beli Emas Indonesia menerima berbagai jenis emas, mulai dari perhiasan, logam mulia, hingga emas tanpa surat atau bahkan yang rusak. Pengecekan kadar dilakukan langsung di depan kamu menggunakan alat XRF yang akurat, jadi tidak ada yang ditutup-tutupi.

